Setiap manusia memiliki cerita dalam hidupnya. Cerita sedih, cerita menyenangkan, cerita mengerikan, dan berbagai cerita lainnya.
Setiap manusia pasti memiliki cerita yang berbeda. Mungkin kamu dapat merasakan kesenangan hidup, tetapi banyak orang di luar sana yang tidak merasakan kesenangan hidup. Hanya segelintir manusia yang dapat benar-benar merasakan kenikmatan hidup.
Berbagai cerita telah terukur di berbagai manusia. Mari kita kumpulkan cerita-cerita itu. Dan bercermin, apakah kehidupan manusia di zaman ini tergolong dalam kehidupan yang rahmatan lil 'alamin? Jika tidak, kehidupan bagaimanakah yang kita jalani sekarang?
Tidak perlu di jawab. Itu hanyalah pertanyaan pembuka. Dan aku tidak membahas mengenai itu. Aku akan membahas cerita hidupku yang berbeda dari kebanyakan manusia yang ada sekarang.
Sebagian orang dapat tersenyum dalam susahnya hidup mereka. Sebagiannya lagi, tidak pernah merasakan senyuman keindahan, padahal mereka terus mencarinya, mereka hanya mendapatkan keindahan yang semu. Bukan keindahan sejati. Keindahan yang mereka dapatkan hanya bersifat sementara. Sangat sementara. Bahkan hampir-hampir tidak dapat di rasakan, hanya sekejap mata, dan tiba-tiba keindahan itu telah hilang. Mereka harus membayar keindahan yang bersifat sementara itu dengan kesedihan yang sangat mendalam. Terlalu dalam, sehingga mereka hanya dapat meratapi kehidupan.
Cerita dalam hidup manusia, apabila di pilah-pilah menjadi bagian-bagian cerita. Akan menjadi cerita yang sangat kompleks. Cerita cinta, cerita usaha, cerita belajar, cerita persahabatan, cerita hobi, cerita pengalaman, dan berbagai cerita lainnya. Sebagian besar manusia telah menulis seluruh cerita-cerita dalam hidupnya. Sebagian lainnya, tidak pernah menemukan cerita untuk di tuliskan dalam catatan cerita mereka. Ketika itu terjadi, manusia itu merasakan ada satu celah yang harus di isi. Dan aku harus mengisi catatan kosong ini. Aku tidak suka dengan ini.
Tapi, hingga kini diriku berusia 20 tahun lebih. Aku belum dapat menulis cerita pada catatan itu. Catatan itu tetap tergeletak usang. Seharusnya dia menjadi lanjutan catatan bagian sebelumnya. Tetapi catatan itu tidak pernah berakhir, sehingga catatan kosong itu tidak dapat dimulai.
Itulah catatan kosong berusia 20 tahun milikku.
Aku selalu berpikir, kapan dan apa yang akan ku tulis dalam cerita itu. Aku selalu penasaran dengan satu sisi kosong yang ada pada diriku. Aku ingin segera mengisinya. Tetapi catatan sebelumnya tidak pernah mendekati selesai. Selalu saja berakhir dengan kebuntuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar