Selasa, 11 Januari 2011

Ngetik

Akhir-akhir ini aku sangat pingin ngetik. Ngetik ini, ngetik itu, ngetik semua banyak sekali. Aku pingin mengetik karena aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Karena aku ragu dengan jawaban yang ada di kepalaku. Sungguh aneh tapi nyata. Mengapa ini semua terjadi? Aku bingung, tetapi kebingunganku selalu membayangi diriku. Membatasi hakikat pengetahuan. Seperti ingin menerobos tetapi tidak pernah mungkin.

Seperti terdapat dinding besar menjulang tinggi, dan aku tidak tahu apa itu. Apakah sesulit itu untuk menjadi seorang teman? Aku ingin menerobosnya, tetapi aku tidak tahu karakteristiknya, semakin membuat diriku bingung apakah aku pantas menerobosnya. Sekali-sekali terpikir, sebenarnya aku tidak perlu dan memang tidak suka untuk menerobos hal itu. Tetapi rasa penasaran, lagipula hanya 1 dinding tidak ada dinding lain yang membuatku penasaran. Bagai ada satu lapisan yang aku tidak mengerti apa itu, hanya untuk menggapainya. 1 lapisan tipis pembeda yang membuat semuanya menjadi sangat berubah. Aku kacau, aku bingung.

Apakah kamu pernah menonton TV? Seperti itulah rasanya. Kamu merasa dekat tetapi kamu tidak pernah dapat menggapainya. Tetapi diriku jauh lebih mengenaskan di banding itu. Ini jelas kenyataan, aku bisa menyentuhnya. Tapi aku tidak pernah mampu. Bagai ada suatu pembatas. Apakah itu ego ku? Apakah itu sifatku? Apakah itu keterbatasanku? Apakah itu karenanya?

Aku sangat bingung. Semakin diriku terjerumus dalam kebingungan semakin diriku ingin menuliskan cerita kosong tak bertuan. Tak mengharapkan pembaca. Karena mereka juga tidak akan mengerti apa yang aku tulis.  Ini sebuah misteri antara aku dan Tuan ku. Sahabat-sahabat ku di kebun indah. Burung-burung yang beterbangan yang hinggap di sarangnya, di atas pohon yang kuat nan Indah. Aku tau, kamu akan semakin bingung dengan tulisanku. Bagai tak bermakna, tapi memang ini tak bermakna bagimu. Bagiku ini juga tidak bermakna. Ini hanyalah pelampiasan emosi. Atas keterbatasan, ketidak sanggupan ku menggapai sesuatu yang persis ada di depan mataku.

Menyedihkan? Bahkan jauh lebih menyengsarakan. Tapi mungkin kalian tau aku. Aku adalah pria yang dapat mengacuhkan apapun yang kuinginkan. Kesengsaran, kepedihan, sakit hati, semua itu dapat ku acuhkan. Mereka bagai angin bagi ku. Angin yang berhembus. Dan aku bahkan tidak perduli dengan rasa sakit itu. Karena itulah aku menjadi pria yang tegar. Pria tegar tidak pernah memperdulikan sesuatu yang di anggap tidak mengganggu aktifitasnya. Dan pembatas itu, tidak pernah mengganggu aktifitasku. Tidak ada yang dapat mengganggu aktifitasku. Tidak ada yang dapat menghentikan diriku untuk tetap tersenyum. Bahkan sesuatu yang ku sangat ingin ku gapai itu. Bila tidak dapat ku gapai, maka biarlah. Itu tidak akan pernah mengganggu diriku. Aku tetap dapat tersenyum menjalani semuanya seperti tidak ada yang terjadi.

Tetapi kamu tau. Ketika kamu sangat ingin memiliki sesuatu dan kamu tidak mendapatkannya. Ada sisi egois di dalam dirimu yang selalu mengharapkannya. Itulah yang ada pada diriku. Tidak, tapi itu tidak menggangguku, hanya saja itu selalu terlintas di pikiranku. Sehingga aku ingin menuangkannya ke dalam sebuah cerita. Cerita yang mungkin tidak dapat di pahami oleh siapapun.

Semoga Allah memberikan yang terbaik bagiku Amien. Karena aku akan berusaha semampuku untuk melakukan yang terbaik. Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik bagi ku. Amien.

1 komentar:

  1. AMIN...
    ingat kalau allah tidak akan membiarkan umatnya putus d tengah jlan d saat tidak ada lagi harapan..
    setiap manusia punya cerita, masing" & sulit memahami satu sama lain walaupun ada yang namanya saling pengertian tapi itu tdak sepenuhnya, manusia bleh berkata iya tapi pda kenyataannya tidak....
    so buat loe, jgn berkcil hati ataupun merasa tdak ada yang dpat mengertimu...
    karna di tiap gang buntu pasti ada jalan, tanpa harus balik ke belakang...
    SEMANGAT...

    BalasHapus