Hidup.
Simple tapi penuh makna dan istilah itulah yang sedang kita jalani.
Setiap makhluk hidup mengalami hidup. Hidup sebagai petani, hidup sebagai pegawai, hidup sebagai anak, hidup sebagai kucing, hidup sebagai tanaman, pokoknya hidup sebagai sesuatu. Segala sesuatu yang hidup merupakan aktor dalam kehidupan. Mereka bisa jadi Serigala pemangsa Domba, Tanaman yang menjulang tinggi, dan berbagai macam hal lainnya. Mereka saling mempengaruhi, baik secara positif, negatif, mutualisme, parasitisme, dan sebagainya. Yang hidup pasti mempunyai pengaruh terhadap kehidupan lainnya.
Simplenya, saya manusia makanan saya ayam, kambing, tumbuhan dan berbagai hal lainnya. Itulah bentuk aktor dan perannya. Manusia adalah makhluk berakal yang diciptakan oleh Sang pencipta. Lalu sebagai makhluk berakal, kita pasti bertanya. Untuk apa sih kita hidup? apakah untuk menjadi seorang dokter, apa untuk jadi seorang pemusik, apa untuk jadi seorang profesor, atau menjadi sesuatu yang bahkan kita tidak mengenalnya. Terkadang banyak manusia yang bahkan tidak tahu untuk apa mereka di ciptakan.
Hidup adalah proses interaksi antara diri kita dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Tujuan Interaksinya adalah untuk menciptakan keharmonisan, sehingga terciptalah keadaan yang damai dan sejahtera. Kondisi inilah yang selalu di idam-idamkan oleh setiap makhluk hidup. Untuk mendapatkan kondisi ini biasanya makhluk hidup melakukan pekerjaan.
Manusia sebagai makhluk berakal sering kali mengakali berbagai cara untuk mendapatkan kondisi ini. Anggapan kebanyakan manusia, kondisi damai sejahtera ialah kondisi dimana segala kebutuhan dan keinginan nafsu manusia dapat terpenuhi dengan mudah. Sehingga kebanyakan manusia mengidam-idamkan harta sebagai mediator untuk tercapainya kondisi damai sejahtera.
Karena sifat Maha Pengasih Sang Pencipta-lah sehingga kini manusia dapat memijakkan kakinya di bumi dan memiliki kemampuan untuk hidup di bumi. Tetapi setiap manusia yang mampu memijakkan kakinya belum tentu mampu mendapatkan kondisi damai dan sejahtera. Dengan sifat Maha Penyayang-Nya, Sang Pencipta menurunkan pedoman hidup untuk tercapainya kondisi damai sejahtera bagi seluruh alam semesta, karena apabila hanya seseorang yang memiliki kondisi sejahtera, sudah tentu orang lain yang tidak mendapatkan kondisi ini akan menjadi perusak kesejahteraannya. Sebagai Sang Pencipta, Ia tahu benar apa yang harus dilakukan dan menjadi tujuan bagi makhluk-Nya untuk mendapatkan kondisi ini. Sang Pencipta menurunkan sebuah petunjuk yang harus di pedomani makhluk-Nya untuk meraih kesejahteraan. Itulah Kitab yang selama ini kita kenal dengan Al-Qur'an. Boleh di bilang buku ini adalah salah satu buku kesukaan saya. Terkadang saya bosan, tetapi saya tidak pernah membiarkan diri saya untuk bosan terhadap Buku yang satu ini. Buku ini mengandung hikmah bernilai pedoman, petunjuk, dan rahmat bagi manusia.
Beberapa hal yang seharusnya di pahami oleh kebanyakan orang saat ini ialah bahwa buku ini adalah satu-satunya buku yang terjamin kebenarannya. Istilah di dalamnya mutlak bernilai benar karena buku ini langsung berasal dari Sang Pencipta. Sang Pencipta menciptakan berbagai istilah dan istilah tersebut di terangkan dalam buku ini. Kalo kata orang bijak "Benar menurut saya, belum tentu benar menurut anda. Benar menurut saya dan anda, belum tentu benar menurut orang banyak. Benar menurut saya, anda, dan orang banyak, belum tentu benar menurut Sang Pencipta. Oleh karena itu yang benar hanya berasal dari Sang Pencipta.". Buku ini menceritakan banyak hal, sosial, politik, budaya, ekonomi, kehidupan, sejarah, dan berbagai macam hal lainnya. Itulah Al-Qur'an petunjuk, penjelas dari petunjuk, dan pembeda.
Kembali pada tujuan hidup. Sang Pencipta menjelaskan tujuan hidup ciptaan-Nya dalam Al-Qur'an pada surat Adz-Dzariyaat(51) ayat 56. "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." Inilah tujuan dari penciptaan manusia. Sebagai manusia, tentulah tujuan hidup kita tidak lain selain untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam berkehidupan di dunia-Nya, kita tidak pernah boleh lupa tujuan dari hidup kita, agar kita tidak keluar dari lingkungan pengabdian. Lingkungan yang hanya menghambakan diri kepada Sang Pencipta. Hiduplah sebagai manusia, yaitu makhluk yang mengabdi kepada Sang Pencipta. Bentuk pengabdian tentu tertulis dalam kitab-Nya Al-Qur'an. Nah, agar kita memahami bagaimana untuk hidup dengan baik dan benar, pelajarilah Kitab-Kitab-Nya baik itu Al-Qur'an, Injil, dan Taurat.
Do the Best and God will take the rest. Jangan pernah keluar dari frame pengabdian. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar