Hasil berbanding lurus dengan usaha dikalikan dengan frekuensi harapan yang ada. Ya, mungkin itulah hasil. Tidak selalu sesuai dengan perhitungan yang telah kita lakukan. :)
Aku memiliki sebuah cerita. Mungkin membosankan dan tidak bernilai banyak. Tetapi, ini sebuah cerita. Cerita tidak akan dikatakan sebuah cerita apabila dia tidak di ceritakan. Oleh karena itu, aku akan mencoba menceritakan cerita pendek ini.
Berawal dari hidup dan berakhir di kematian. Dari Fajar hingga kembali fajar. Dari Hari senin, hingga hari senin seminggu setelahnya. Dari bulan Januari, hingga bulan Januari setahun setelahnya. Semuanya berjalan dari titik awal dan kembali ke titik awal. Dan waktu sebagai satuan durasi berjalannya suatu proses.
"Waktu adalah ilusi". Itulah komentar Enstein terhadap waktu. Dia menganggap waktu hanyalah satuan untuk mengukur durasi dari sebuah proses. Coba kita renungkan kembali. Apakah mungkin menghentikan waktu? atau bahkan kembali ke masa lalu? Mungkin kita bisa menghentikan waktu atau bahkan memutar waktu. tapi apakah hal tersebut tidak kontradiktif? Coba pikirkan perumpamaan berikut. Aku menghentikan waktu selama 5 menit, lalu setelah itu waktu kembali berjalan selama 10 menit, dan aku menganggap diriku hanya melewati waktu selama 10 menit. Bukankah kontra diktif? Bukankah berarti aku telah melewati waktu selama 15 menit, 5 menit proses yang aku anggap penghentian waktu dan 10 menit yang aku anggap normal? Umurmu hanyalah satuan ukur durasi hidup mu yang di hitung berdasarkan waktu Masehi. Bukankah begitu?
Bagaimana ketika hari yang disebut dengan kehancuran seluruh alam datang? Apakah setelah kehancuran itu datang, lalu tidak ada lagi waktu yang berjalan? Setelah kehancuran alam, benda-benda angkasa yang hancur akan tetap melewati durasi tersebut. Walaupun dalam bentuk yang tidak utuh. Dan waktu akan tetap berjalan menghitung panjangnya durasi benda angkasa tersebut berada di angkasa luas. Bukankah setiap benda tersusun dari benda yang lebih kecil dari benda tersebut? dan ketika kita berhasil menghancurkan benda terkecil tersebut, bukankah dia hanya akan berubah menjadi lebih kecil? Benda tidak dapat di musnahkan. Benda2 angkasa bisa jadi berhantaman saling menghancurkan, tetapi dia hanya akan berubah bentuk dan akan tetap eksis di angkasa luas. Akan tetap eksis bersama waktu tanpa batas.
Hancur ada, ketika Cipta ada. Bagus ada, ketika buruk ada. Baik ada, ketika jahat ada. Gelap ada, ketika terang itu ada. Awal ada, ketika akhir ada. Disaat sesuatu tidak berawal, maka dia tidak akan berakhir. Yang menolak ada, ketika yang menerima ada. Yang berdosa ada, ketika yang tanpa dosa ada. Yang najis ada, ketika yang suci ada. Bukankah begitu? Penyakit ada, ketika normal ada. Bagaimana jika semua orang sakit? Bukankah penyakit tersebut adalah normal? Apakah kita pernah berpikir, manusia normal adalah manusia yang berjari 6, dan kita adalah manusia yang terkena penyakit sehingga memiliki 5 jari? Ketika cahaya itu belum tampak kepermukaan, maka kita tidak mengenal apa itu kegelapan. Ketika tidak ada yang menjelaskan bahwa itu dosa, kita tidak mengenal yang mana yang bernilai pahala. Bukankah begitu?
Berarti dari kesimpulan di atas, kita dapat memahami. Kafir adalah suatu istilah yang ada ketika muslim itu sendiri ada. Ketika muslim ada, tentu yang kafir menolak pemahaman muslim, sehingga mereka disebut dengan orang-orang kafir. Bagaimana jika bahkan muslim yang haq itu sendiri belum ditemukan? Dari pemahaman diatas, kita dapat memahami sesungguhnya tidak ada yang kafir, kalau muslim itu tidak ada. Dapatkah kita mengatakan mereka kafir, karena mereka tidak muslim? Mungkin bisa, tetapi bagaimakah kita dapat menilai mereka kafir sedangkan muslim itu sendiri belum ada. Bagaimana kita dapat mengatakan mereka salah, padahal yang benar saja belum ada. Mereka semua adalah orang yang salah, jika begitu kesalahan itu sendiri menjadi suatu yang normal, sebelum kebenaran yang haq datang.
Mungkin teman-teman bertanya, apa gunanya aku bercerita seperti ini. Memang aku mengerti dan aku sadari, cerita ini hanyalah untuk meluapkan apa yang ada di pikiranku. Hanyalah untuk mengisi kekosonganku. Aku tidak tahu, apakah baik untuk memendam sebuah pemahaman yang belum tentu kebenarannya. Untuk itu, aku butuh pesan dan komentar teman-teman untuk membumbui dan memperbaiki apa yang aku pahami jika itu bernilai salah, atau bernilai kurang. Apakah kamu tahu, apa yang di kerjakan oleh seseorang yang tidak pernah berhenti berpikir dan tidak memiliki teman untuk berpikir? Mungkin sebagiannya akan diam dan tetap berpikir sendirian, tapi sebagian yang lain akan menuliskan apa yang ada di pikirannya dalam tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar