Minggu, 12 Juni 2011

Belief

Detik yang kulalui terasa berharga bersama dirinya.

Sabtu,  11 Juni 2011.
Dari pagi hingga sore. Aku tidak bersama dirinya. Kala itu, aku hanya bersama temanku untuk menikmati kongkouw bersama di sebuah kedai kopi yang berada di simpang 5 banda aceh. Tidak ada yang istimewa, selain berkumpulnya kami alumni-alumni MAN yang bersahabat. Awalnya aku telah menyepakati waktu bersama dirinya di sore hari, tetapi karena pamannya pada saat itu bertemu dengan ayahnya, pertemuan diriku dan dia harus di undur hingga malam hari.

Aku datang ke toko itu, kira-kira pukul 8 malam. Dia terlihat begitu menawan dengan baju couple dan cardigannya. ~.~, kupikir, inilah malam terakhirku bersama dirinya di kota banda aceh. Kami akan bersama dengan kondisi dan tempat yang berbeda nantinya. Aku, dia, adiknya, sepupu dan kakaknya, kami bersama-sama menuju sebuah tempat makan untuk merayakan hari ulang tahun adiknya yang ke-20. Kebersamaan yang tak akan pernah ku lupakan sampai kapanpun. Setelah makan, kami kembali ke toko dan melakukan obrolan melepas seluruh isi qalbu, untuk menemaninya di saat-saat terakhir bersamanya di kota banda aceh untuk beberapa tahun yang akan datang. Diriku yang telah menunggu saatnya tiba bagi kami untuk berfoto ria, langsung mengganti bajuku dengan baju couple yang telah kami buat bersama. Foto-foto itu akan menjadi ukiran kenangan di dalam qalbu kami. Senyuman menawannya kepadaku menjadi akhir perjumpaan kami di malam minggu 11 Juni 2011.

Minggu, 12 Juni 2011.
Kemarin merupakan salah satu hari yang memilukan. Perpisahan dengan dirinya membuat diriku sedikit bingung. Kami yang baru saja menjalani hubungan belum sampai 1 bulan dan harus di pisahkan oleh jarak. Tapi aku sadar, ini adalah yang terbaik. Karena Allah tau yang terbaik bagi hamba-Nya. Aku telah mengatakan kepadanya, aku akan berjalan besok, sehingga aku tidak dapat bertemu dengan dirinya. Dan apa yang ku lakukan? Aku malah melakukan hal yang tidak penting, meragukan dirinya dengan melakukan pengujian terhadap dirinya. Sepupuku yang menawarkan ide itu, kupikir tidak ada salahnya untuk mengujinya, aku hanya ingin tahu bagaimana cara dia berbicara dengan laki-laki selain diriku. Sepupuku yang berpura-pura menjadi orang lain, menanyakan hubunganku dengan dia. Saat itu dia berkata "Tidak". Aku sebenarnya menyadari dan tahu, hal itu akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. Ketika kutanyakan, dia berusaha meyakinkan diriku kenapa ia berkata tidak. Ketika itu aku semakin yakin dengan hubungan kami.

Kini, apapun hasilnya. Aku akan tetap lebih memilih mempercayai dirinya (tentunya dan sahabat-sahabatku, yang tidak perlu ku sebutkan disini) di banding siapapun di dunia ini. Aku berharap dia tidak menyakiti hatiku dengan mengkhianati kepercayaanku terhadap dirinya. Lebih baik jujur, karena bagiku tidak ada yang menyakitkan di dalam kejujuran. Katakanlah segalanya sesuai dengan kenyataan yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar