Wah, diriku bingung kenapa malam ini aku memiliki perasaan yang sangat tidak enak. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menetralisirnya, tetapi diriku hanya penasaran apa yang menyebabkan dan apa yang terjadi apabila diriku tetap membiarkan perasaan ini di benakku. Karena mereka bilang, "kesulitan" itu dapat memperlihatkan potensi-potensi terpendam yang ada pada setiap pribadi. Dengan "kesulitan", seorang manusia dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan
Ehm, tetapi setelah mengetik beberapa kalimat, sungguh diriku merasa sangat amat nyaman. Aku tidak mengerti apakah karena sifat possesive, atau sifat tidak nyaman karena ada sesuatu yang berubah pada diriku. Diriku terkadang merasa sangat nyaman dengan masa-masa itu, bahkan nyaman sekali. Bahkan diriku terkadang beranggapan tidak ingin meninggalkan masa-masa itu. Ini semua bagaikan diriku yang telah nyaman dengan kuda dan mengganti kendaraan dengan mobil. Ehm, kurang tepat. Lebih tepatnya lagi aku lebih nyaman berjalan kaki, di banding harus bersepeda. Padahal tentu sepeda telah melengkapi kekurangan yang ada pada diriku. Tetapi karena kebiasaan berjalan kaki, aku merasa sangat nyaman dan merindukan masa-masa itu. :(
Aku mulai menyadari. Ketika otak mu melemah, otak mu kembali memfungsikan dirimu sebagaimana dirimu yang paling dominan. Mungkin disini otakku lelah dengan cara berpikir yang baru. Dan ketika ia lelah, ia mengembalikan diriku dengan cara berpikir yang lama, karena sejatinya aku telah terbiasa dengan cara berpikir yang terdahulu. Masa-masa itu dimana kamu tidak perlu memperdulikan hal lain. Yang paling nyata adalah dirimu dan kamu. Tidak yang lain. Lingkungan hanyalah faktor pendukung yang akan melengkapi dirimu, tapi tidak menjadi bagian hidupmu.
Sayangnya, saat ini otak ku mulai berpikir dengan cara yang sedikit berbeda. Yaitu 2 dalam 1. ~.~, rumit. Tidak lagi hanya melengkapi, tetapi dia yang dahulu hanyalah bagian dari lingkungan kini telah menjadi satu dengan diriku. Aku tidak lagi bisa hanya memikirkan diriku. Itu terlalu egois. Aku tidak lagi bisa hanya menyayangi diriku. Karena aku sayang dia. Aku tidak lagi bisa membiarkan diriku sebagai manusia yang dapat berkeliaran sesuka hati tanpa memikirkan apapun kecuali tujuan. Sekarang aku harus berjalan bersama dirinya. Aku memiliki tujuan yaitu membahagiakan dirinya. Dan tentu itu menambah beban tanggung jawabku yang dahulu hanya mengejar tujuan.
Sebenarnya diriku tidak perlu complain, bingung, menjadi aneh, dan berbagai hal lainnya cuma karena hal seperti ini. Diriku hanya mencoba untuk menanggapinya untuk menjadi pelajaran bagiku kelak. ~.~, apakah benar bisa jadi pelajaran atau hanya membuang-buang waktu? entahlah. Diriku sangat sadar, yang dapat kulakukan hanyalah melakukan yang terbaik untuknya. Bukan untuk menjadi beban, melainkan untuk menjadi penunjang kehidupanku, agar aku menjadi pribadi yang lebih baik dengan motivasi yang lebih baik.
Semua yang kulakukan (dengan tidak melupakan dasar dan tujuan) hanyalah untuknya. Kekasihku.
Ehm... Puas dengan yang tadi, muncul kembali sebuah ide tentang konstanta. Nilai yang selalu bernilai tetap. Tidak tergantung dengan variabel tertentu. Dahulu aku bernilai 1. Lalu di tambah dengan 1 lagi, sehingga yang dahulunya bernilai 1 menjadi bernilai 2. Aku tidak berkurang, aku bertambah. Nilai 2 lah yang kucari, ketika nilai penjumlahan tidak dengan nilai 1 yang lainnya, maka nilai tersebut tidak pernah sama dengan 2. Bisa jadi bernilai 1,5 atau 1,7 atau bahkan bernilai 3 dan seterusnya. Yang kuinginkan adalah nilai 2. Maka diriku yang dahulu bernilai 1 harus di jumlahkan dengan nilai 1. Jika tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku hanya bernilai 1.
Dialah yang bernilai 1 itu, yang melengkapi diriku menjadi bernilai 2. Kini aku bernilai 2. Ku harap ia tetap menjadi 1 yang lainnya, sehingga aku tetap bernilai 2. Jika ia berubah, aku takut, aku harus meninggalkan dirinya.
Aku yang 1 adalah aku yang mengabdi kepada Allah berdasarkan ajaran-Nya dan bertujuan sesuai dengan ajaran-Nya. Tentu diriku yang kini telah bertambah menjadi 2, memiliki sifat-sifat ku yang dahulu ketika aku masih 1, hanya saja kini aku bertambah. yaitu aku yang 2 adalah aku yang memiliki motivasi untuk membahagiakan dia. Karena aku telah memiliki pasangan.
Kini aku yang 2, selalu memiliki motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di dalam segala hal dengan tidak melupakan tujuan dan dasar dari apa yang telah aku jalani ketika diriku bernilai 1. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar